Kolaborasi Perempuan Belitung: Belitung Women’s Club Nilai Nana Murry Figur Impresentasikan Perempuan Babel Secara Utuh

Belitung, siasatnusantara.com – Sekretaris Belitung Women’s Club (BWC), Zakina, menilai Nana Murry sebagai figur perempuan dengan kapasitas besar dalam merepresentasikan perempuan Kepulauan Bangka Belitung secara utuh. Rabu (10/6/2026).

Pertemuan hangat di sudut asri Green Tropical Village Hotel & Resort, Tanjungpandan, bukan sekadar temu sapa penuh keramahan. Dari ruang yang dikelilingi semilir hijau tropis itu, lahir gagasan strategis tentang masa depan pendidikan dan pemberdayaan ekonomi perempuan Belitung.

Belitung Women’s Club (BWC) dan Yayasan Adham Mirranda Indonesia (YAMI) sepakat menjadikan silaturahmi tersebut sebagai pijakan kolaborasi jangka panjang.

Sinergi ini tak hanya menyatukan visi, tetapi juga membangun optimisme perempuan-perempuan berdaya di Negeri Laskar Pelangi.

Pendiri Yayasan Adham Mirranda Indonesia, Nana Murry, yang juga menjabat Wakil Ketua Bhayangkari Daerah Kepulauan Bangka Belitung, menegaskan komitmennya memperluas program pendidikan, sosial, dan lingkungan di Belitung.

Sejak berdiri pada 2008, YAMI konsisten menguatkan pendidikan anak usia dini (PAUD) serta pemberdayaan perempuan di berbagai daerah di Indonesia. Kini, Belitung menjadi salah satu titik fokus pengembangan berikutnya.

“Kami melihat potensi luar biasa dari perempuan-perempuan Belitung. Dengan kolaborasi yang tepat, kita bisa melahirkan program nyata yang berdampak langsung bagi masyarakat,” ujar Nana , Rabu (10/6/2026).

Penguatan Literasi dan Numerasi Berbasis Kearifan Lokal

Komitmen tersebut segera diwujudkan. Pada 22 Juni di Belitung dan 23 Juni di Belitung Timur, YAMI akan menggelar pelatihan bagi guru PAUD, TK, serta guru kelas 1 dan 2 SD.

Pelatihan ini berfokus pada penguatan literasi dan numerasi melalui pendekatan kreatif berbasis kearifan lokal. Narasumber nasional yang terlibat dalam perumusan kurikulum PAUD tingkat pusat dijadwalkan hadir untuk berbagi praktik terbaik.

Konsepnya sederhana namun berdampak menjadikan lingkungan sekitar sebagai laboratorium belajar.

Numerasi dapat diajarkan melalui irama musik gambus, mengenalkan pola dan hitungan lewat harmoni nada.

Literasi dibangun dari cerita tentang sejarah serta proses pembuatan alat musik tradisional tersebut. Dengan pendekatan ini, anak-anak tidak sekadar belajar membaca dan berhitung, tetapi juga memahami identitas budayanya.

“Pendidikan usia dini adalah fondasi masa depan. Kita tidak bisa menitipkan generasi tanpa memastikan kualitas pendidiknya terus ditingkatkan,” tegas Nana.

“Ibu Nana adalah sosok profesional, siap, dan memiliki kapasitas besar untuk mewakili perempuan Babel.

Beliau menjadi representasi positif bagi perempuan masa kini, khususnya dalam mendorong pemberdayaan di bidang pendidikan, KUKM, sosial, hingga keagamaan,” ujar Zakina.

Ia menekankan bahwa semangat kolaborasi antara Bangka dan Belitung menjadi fondasi penting dalam memperkuat jejaring perempuan di daerah.

Belitung Women’s Club yang awalnya berbentuk komunitas kini telah bertransformasi menjadi yayasan bernama Belitung Wanita Cemerlang (BWC), dengan visi memperluas peran dan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Zakina menyebut pihaknya ingin banyak belajar dari Yayasan Adham Mirranda Indonesia yang dipimpin Nana.

Selain aktif dalam kegiatan filantropi dan sosial, Nana juga dinilai memiliki pengaruh di tingkat daerah maupun nasional.

Di sektor usaha, Nana diketahui mengelola sejumlah merek fesyen, termasuk lini busana dan produk tas. Kiprahnya di dunia usaha berjalan beriringan dengan perannya sebagai ibu dari tujuh anak serta Wakil Ketua Bhayangkari Daerah Kepulauan Bangka Belitung.

“Beliau merepresentasikan perempuan dalam realitas sosial, konstruksi budaya, keluarga, dan kepemimpinan publik sekaligus. Itu bukan hal yang mudah,” kata Zakina.

Terkait kelembagaan, Zakina menegaskan bahwa dirinya merupakan Sekretaris Belitung Women’s Club, sementara identitas yayasan menggunakan nama Belitung Wanita Cemerlang.

Ketua BWC, Vina Cristyn Ferani, saat ini tengah menjalankan agenda di luar daerah dan dijadwalkan kembali bergabung pada awal pekan.

Dengan semangat saling menguatkan, Zakina berharap kolaborasi lintas pulau ini tidak berhenti sebagai seremoni, melainkan menjadi gerakan konsisten yang mendorong perempuan Bangka Belitung semakin berdaya, mandiri, dan berpengaruh.

Di tangan perempuan-perempuan yang saling menggandeng, masa depan daerah bukan sekadar harapan, melainkan ikhtiar yang terus diperjuangkan.

(*/Luise).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *