Sekayu, siasatnusantara.com – Insiden kecelakaan perairan kembali mengguncang wilayah Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), Sumatera Selatan. Sebuah tongkang pengangkut batubara yang diduga milik PT Astaka Dodol dilaporkan menabrak dinding penahan air atau dam penahan tebing di Desa Bailangu, Kecamatan Sekayu, Senin malam (18/5/2026) sekitar pukul 19.00 WIB.
Peristiwa yang terjadi di tengah gelapnya malam itu sontak memicu kepanikan warga yang bermukim di sepanjang bantaran sungai. Dentuman keras yang terdengar dari arah sungai membuat warga berhamburan keluar rumah untuk memastikan kondisi lingkungan sekitar.
Menurut kesaksian warga di lokasi kejadian, sebelum tabrakan terjadi, tongkang tersebut diduga sudah mengalami gangguan atau kehilangan kendali. Suara gemuruh mencurigakan terdengar beberapa saat sebelum benturan keras menghantam struktur dam yang selama ini menjadi pelindung utama tebing dan permukiman warga dari abrasi sungai.
“Mungkin roboh itu. Sebelum terjadi benturan keras, tongkang itu memang sudah berbunyi gemuruh. Setelah itu tidak ada lagi suaranya,” ujar seorang warga yang menyaksikan langsung suasana mencekam malam itu.
Tak lama berselang, suara hantaman keras memecah kesunyian malam dan merusak sebagian struktur dam di Desa Bailangu. Warga yang khawatir terjadi longsor atau kerusakan lanjutan langsung mendatangi lokasi dengan penerangan seadanya.
Kondisi gelap gulita di sekitar lokasi membuat proses penanganan awal berjalan cukup sulit. Petugas gabungan yang tiba di lokasi terlihat menggunakan rompi keselamatan dan perlengkapan penerangan untuk melakukan penyisiran area terdampak. Sorot lampu senter dan lampu kendaraan roda dua menjadi satu-satunya alat bantu penerangan di tengah minimnya pencahayaan di kawasan sungai.
Hingga berita ini diturunkan, petugas masih melakukan pemeriksaan intensif guna memastikan tingkat kerusakan dam serta mendata kemungkinan dampak lain yang ditimbulkan akibat tabrakan tongkang batubara tersebut. Aparat juga masih memastikan ada atau tidaknya korban jiwa maupun kerugian material lainnya.
Insiden ini kembali memunculkan sorotan tajam terhadap lemahnya pengawasan lalu lintas angkutan sungai di wilayah Musi Banyuasin yang selama ini dikenal padat aktivitas pengangkutan batubara dan komoditas industri lainnya. Warga menilai aktivitas tongkang berukuran besar yang melintas di jalur sungai dekat permukiman sering kali menimbulkan keresahan karena dianggap minim pengawasan keselamatan.
Selain faktor cuaca dan arus sungai, dugaan kelalaian teknis maupun human error kini menjadi perhatian utama dalam proses penyelidikan. Aparat kepolisian bersama instansi terkait dikabarkan tengah mendalami identitas kapal penarik (tugboat), kondisi teknis tongkang, hingga legalitas operasional angkutan yang terlibat dalam insiden tersebut.
Warga Desa Bailangu mendesak pemerintah daerah dan pihak perusahaan untuk segera bertanggung jawab atas kerusakan fasilitas penahan tebing yang memiliki fungsi vital bagi keselamatan lingkungan sekitar. Mereka khawatir apabila kerusakan dam tidak segera diperbaiki, abrasi sungai dapat semakin mengancam permukiman warga di tepi aliran sungai.
Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat keras bahwa aktivitas distribusi batubara melalui jalur perairan tidak boleh hanya berorientasi pada kepentingan industri semata, tetapi juga harus mengedepankan aspek keselamatan publik dan perlindungan lingkungan hidup masyarakat sekitar.
Sementara itu, pihak berwenang menyatakan investigasi masih terus berlangsung dan informasi terkait penyebab pasti kecelakaan maupun pihak yang bertanggung jawab akan diumumkan setelah proses pemeriksaan lapangan selesai dilakukan.
(*/Lukman).











