Musi Banyuasin, siasatnusantara.com – Praktik pengeboran minyak ilegal di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), Sumatera Selatan, kembali mencuat dengan skala yang kian mengkhawatirkan.
Hasil investigasi lapangan tim liputan gabungan media di Desa Macang Sakti, Kecamatan Sanga Desa, mengungkap aktivitas eksploitasi minyak mentah tanpa izin yang berlangsung terbuka, masif, dan diduga kuat terorganisir.
Di tengah ancaman kebakaran dan ledakan yang sewaktu-waktu bisa terjadi, sejumlah sumur aktif terlihat beroperasi tanpa standar keselamatan, tanpa dokumen legalitas, serta minim pengawasan. Ironisnya, aktivitas berisiko tinggi ini seolah berjalan tanpa hambatan hukum.
Sorotan tajam pun mengarah ke kinerja aparat penegak hukum, khususnya Polres Muba, yang dinilai belum menunjukkan langkah tegas terhadap praktik ilegal tersebut.
Nama seorang oknum berinisial Aji mencuat sebagai pihak yang diduga mengendalikan sejumlah titik pengeboran ilegal di kawasan itu. Berdasarkan penelusuran di lapangan, sedikitnya lima sumur aktif disebut berada dalam kendalinya, dengan produksi yang tergolong besar dan berlangsung kontinu.
Pengakuan seorang pekerja berinisial T memperkuat dugaan tersebut. Ia mengaku terlibat langsung sebagai “tukang polot” dan menyebut produksi minyak ilegal berlangsung dalam volume signifikan.
“Dalam tiga sampai empat hari, bisa dapat satu mobil truk, sekitar 40 sampai 50 drum,” ujarnya saat ditemui di lokasi, Jumat (9/4/2026).
Lebih lanjut, T mengungkap adanya sumur dengan kondisi ekstrem yang dikenal dengan istilah “meluing” yakni semburan minyak mentah yang meluap akibat tekanan tinggi dari dalam tanah. Dalam kondisi tertentu, sumur tersebut bahkan mampu menghasilkan hingga puluhan mobil tangki dalam waktu singkat.
“Ada satu sumur yang meluing. Kadang hanya pagi hari, tapi hasilnya bisa sampai 10 mobil besar,” katanya.
Temuan paling mengkhawatirkan adalah keberadaan sumur tanpa identitas yang hanya berjarak sekitar 20 meter dari titik aktivitas pekerja. Sumur tersebut terus mengeluarkan gas liar tanpa sistem pengamanan, menciptakan potensi ledakan yang sangat tinggi.
Meski menyadari risiko besar, para pekerja mengaku tetap bertahan karena tekanan ekonomi.
“Takut pasti ada. Tapi kami tidak punya pilihan. Kami hanya bisa waspada,” ungkap T.
Situasi ini memperlihatkan bahwa praktik illegal drilling di Muba telah berkembang dari sekadar aktivitas sporadis menjadi jaringan terstruktur dengan kapasitas produksi besar. Selain berpotensi merugikan negara dari sisi pendapatan migas, aktivitas ini juga menjadi ancaman nyata terhadap keselamatan masyarakat dan lingkungan.
Namun yang lebih mengundang tanda tanya adalah minimnya tindakan hukum dari aparat setempat.
Saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp, Aji justru memblokir kontak wartawan, sikap yang semakin menambah kecurigaan publik.
Pemerhati kebijakan publik, RN, melontarkan kritik keras terhadap aparat kepolisian di wilayah tersebut. Ia menilai ada kejanggalan serius dalam penanganan kasus illegal drilling di Muba.
“Ada dua kemungkinan kenapa tidak ditindak. Entah ada indikasi pembiaran, atau bahkan dugaan keterlibatan dalam rantai praktik ilegal tersebut,” tegasnya kepada media, Kamis (16/4/2026).
RN juga menagih komitmen Satgasus Ilegal Drilling dan Ilegal Refinery yang dibentuk Bareskrim Polri agar tidak hanya keras dalam pernyataan tetapi tindakan nyata.
“Mana tindakan nyata Satgasus? Jangan hanya keras di pernyataan, tapi di lapangan nihil. Ini yang jadi pertanyaan publik,” ujarnya.
RN mengingatkan, jika praktik ini terus dibiarkan, maka potensi bencana besar tinggal menunggu waktu. Ledakan, kebakaran, hingga korban jiwa bukan lagi sekadar kemungkinan, melainkan ancaman nyata yang bisa terjadi kapan saja.
Tragedi yang terjadi di wilayah HGU PT Hindoli Cargill Grup di Kecamatan Keluang beberapa waktu lalu menjadi peringatan keras. Tanpa penindakan tegas, bukan tidak mungkin peristiwa serupa terulang di Desa Macang Sakti.
Di tengah situasi ini, publik menanti keberanian aparat penegak hukum untuk bertindak. Sebab jika hukum tak lagi mampu menjangkau praktik ilegal yang terang-terangan terjadi, maka yang dipertaruhkan bukan hanya kewibawaan negara, melainkan juga keselamatan masyarakat luas.
(*/LKM/Team)











