Lantung, siasatnusantara.com – Peringatan Jumat Agung tahun 2026 menjadi momentum refleksi iman yang mendalam bagi umat Kristiani, khususnya Jemaat GMIM Eben Haezer Lantung. Jumat (3/4/2026).

Melalui ibadah yang berlangsung dengan penuh penghayatan iman yang mendalam, pesan tentang pengorbanan Yesus Kristus kembali ditegaskan sebagai dasar kehidupan iman dan panggilan moral bagi seluruh umat.
Dalam ibadah yang dipimpin oleh Pdt. ALRI Alvie Lumempouw, S.Th., pembacaan firman Tuhan dari Ibrani 10:1–18 menjadi pusat perenungan. Firman tersebut menegaskan bahwa pengorbanan Kristus bukan sekadar korban biasa, melainkan pengorbanan yang sempurna dan berlaku untuk selama-lamanya.
Dalam khotbahnya, Pdt. ALRI Alvie Lumempouw, S.Th. menyampaikan bahwa Jumat Agung bukan hanya peristiwa sejarah, tetapi memiliki makna spiritual yang sangat dalam bagi kehidupan manusia masa kini.
“Pengorbanan Kristus di kayu salib adalah wujud kasih Allah yang sempurna. Ia tidak hanya menjadi korban, tetapi mengorbankan diri-Nya secara sadar demi keselamatan umat manusia,” ujarnya.
Lebih lanjut disampaikan bahwa pengorbanan tersebut seharusnya menggugah nurani setiap orang percaya untuk hidup dalam pertobatan dan kebenaran. Menurutnya, dalam konteks kehidupan berbangsa dan bermasyarakat saat ini, nilai pengorbanan, kejujuran, dan kasih menjadi sangat penting untuk dihidupi bersama.
“Jumat Agung harus menjadi cermin bagi bangsa ini. Ketika banyak tantangan, ketidakadilan, dan krisis moral terjadi, maka pengorbanan Kristus menjadi panggilan untuk kembali kepada nilai-nilai kasih, pengampunan, dan kebenaran,” tambahnya.
Ibadah Jumat Agung di GMIM Eben Haezer Lantung diikuti oleh jemaat dengan penuh penghayatan dan suasana hening yang mendalam, diwarnai dengan doa, pujian, dan perenungan akan karya keselamatan Kristus.
Jemaat diajak untuk merenungkan arti pengorbanan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui peringatan Jumat Agung ini, diharapkan seluruh umat tidak hanya mengenang penderitaan Kristus, tetapi juga menghidupi makna pengorbanan itu dalam tindakan nyata, baik di lingkungan keluarga, gereja, maupun dalam kehidupan bermasyarakat.
Jumat Agung 2026 pun menjadi pengingat bahwa pengorbanan Kristus bukan hanya peristiwa iman, tetapi juga panggilan untuk membangun kehidupan yang lebih baik, adil, dan penuh kasih di tengah bangsa Indonesia.
Penulis: Yoksan Salendah, C.Par., C.BJ., C.EJ.











