Siasatnusantara.com – DELI SERDANG || Duka mendalam menyelimuti Kecamatan Pagar Merbau, Kabupaten Deli Serdang, setelah banjir besar melanda wilayah tersebut akibat hujan deras yang mengguyur Sumatera Utara selama empat hari berturut-turut.
Bencana yang terjadi pada 27 hingga 28 November 2025 ini merendam 11 desa dan memaksa ratusan keluarga mengungsi ke posko darurat, meninggalkan rumah dan harta benda yang terendam lumpur.
Namun, di tengah penderitaan warga yang masih menanti uluran tangan pemerintah, beredar kabar mengejutkan: seorang oknum Camat berinisial JN diduga memerintahkan para Kepala Desa untuk mengalihkan bantuan logistik ke kecamatan lain yang tidak terdampak langsung oleh banjir. Dugaan ini sontak memicu kemarahan dan kekecewaan masyarakat yang merasa diabaikan oleh pemimpinnya sendiri.
Banjir yang melanda Pagar Merbau tak hanya merusak rumah-rumah warga, tetapi juga melumpuhkan aktivitas ekonomi. Sebagian besar penduduk yang menggantungkan hidup dari pertanian dan industri batu bata kini kehilangan mata pencaharian. Lahan pertanian terendam, dan tungku produksi tak bisa beroperasi.
Di posko-posko pengungsian, dapur umum telah didirikan, namun kebutuhan dasar seperti bahan makanan, susu dan popok bayi, obat-obatan untuk lansia, serta nutrisi bagi ibu hamil masih sangat kurang. Para Kepala Desa, dibantu TNI dan Polri, terus berjibaku mengevakuasi warga dan menyalurkan bantuan, bahkan beberapa di antaranya harus menggunakan dana pribadi demi memenuhi kebutuhan mendesak.
Di tengah upaya keras para relawan dan aparat desa, muncul kabar yang mengguncang: Camat Pagar Merbau diduga memerintahkan agar bantuan logistik justru dialihkan ke kecamatan lain. Informasi ini memicu pertanyaan besar tentang prioritas dan empati pejabat daerah terhadap warganya yang sedang tertimpa musibah.
Seorang warga yang enggan disebutkan namanya menyampaikan kekecewaannya, “Saya lihat sendiri bagaimana para Kepala Desa dan aparat bekerja siang malam menolong kami. Tapi kenapa bantuan justru dikirim ke tempat lain? Camat datang ke lokasi dengan pakaian rapi, tanpa membawa bantuan apa pun. Ini menyakitkan.” pungkasnya
Masyarakat Pagar Merbau menilai tindakan tersebut sebagai bentuk pengkhianatan terhadap amanah jabatan. Mereka menuntut Bupati Deli Serdang segera turun tangan, melakukan investigasi menyeluruh, dan memberikan sanksi tegas jika terbukti terjadi penyalahgunaan wewenang.
Bagi warga, tragedi ini bukan sekadar bencana alam, tetapi juga ujian moral bagi para pemimpin. Mereka berharap pemerintah daerah tidak hanya hadir secara simbolis, tetapi benar-benar berpihak pada penderitaan rakyat.
“Jangan sampai kepercayaan kami yang sudah retak berubah menjadi keputusasaan,” ujar salah satu tokoh masyarakat.(red)











