Siasatnusantara.com – Medan || Kawasan Pulo Brayan Kota, Medan, tengah dilanda krisis pasokan ikan kembung yang berkepanjangan. Kondisi ini memicu kepanikan di kalangan pedagang kecil yang menggantungkan hidup dari perdagangan ikan tersebut. Akibat kelangkaan ini, banyak dari mereka kehilangan mata pencaharian dan menghadapi ancaman gulung tikar.
Stok ikan kembung yang menipis dalam beberapa waktu terakhir membuat para pedagang kesulitan memenuhi permintaan pasar. Tanpa pasokan yang stabil, omzet mereka anjlok drastis. “Kami tidak punya barang untuk dijual. Ini bukan hanya soal bisnis, tapi soal perut,” keluh salah satu pedagang di kawasan tersebut.
Melihat kondisi yang kian memprihatinkan, Benny Andhika, ST—Kepala Staf IV Logistik dan Keuangan Makowil I/HA Korps Bela Negara Indonesia (KBNI) sekaligus pendiri “Kampung Kembung”—turun tangan. Ia menyuarakan aspirasi masyarakat langsung ke tingkat nasional, menyerukan perlunya perhatian serius dari pemerintah pusat.
Puncak keresahan terjadi di Pulo Brayan Kota, Medan, yang selama ini dikenal sebagai pusat distribusi ikan kembung. Dalam pernyataan resminya di Pendopo Markas Komando KBNI pada Minggu (25/1/2026), Benny menyampaikan bahwa laporan dari para pedagang menunjukkan situasi yang semakin genting.

Menurut Benny, krisis ini bukan sekadar soal pasokan, tetapi menyangkut keberlangsungan ekonomi rakyat. Ia menduga adanya sumbatan dalam rantai distribusi yang belum teridentifikasi, menyebabkan ketidakpastian harga dan ketersediaan ikan di pasar. “Ini bukan hanya soal logistik, tapi soal keadilan ekonomi,” ujarnya.
Benny mendesak pemerintah pusat, khususnya Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Kelautan dan Perikanan, untuk segera turun tangan. Ia mengajukan tiga langkah strategis:
1. Audit Jalur Distribusi: Pemeriksaan menyeluruh terhadap sistem distribusi perikanan untuk mengungkap akar masalah kelangkaan.
2. Stabilisasi Harga dan Stok: Menjamin ketersediaan ikan kembung dengan harga yang terjangkau bagi pedagang kecil.
3. Atensi Khusus untuk Kampung Kembung: Menjadikan isu ini sebagai prioritas nasional demi menjaga identitas dan keberlangsungan ekonomi lokal.
“Jangan sampai masyarakat yang bergantung pada dagangan ikan kembung terus terpuruk akibat kelangkaan yang belum diketahui penyebab pastinya,” tegas Benny menutup pernyataannya. (Red)











