Provinsi Nyalakan Revolusi Hijau di Desa Zed Lewat Tanaman Aren sebagai Pilar Ketahanan Pangan, Energi, Ekologi, dan Ekonomi

Zed, Bangka, siasatnusantara.com — Di tengah kegelisahan global terhadap krisis ekologi dan ketergantungan ekonomi yang rapuh, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mulai menunjukkan arah baru. Arah yang tidak hanya menjanjikan kesejahteraan bagi masyarakat perdesaan, tetapi juga menghidupkan kembali alam yang telah lama terlupakan.

Di Desa Zed, semangat itu terasa kuat. Gelombang pengetahuan, riset, dan tindakan nyata kembali menggema, dipimpin langsung oleh para ahli, aktivis lingkungan, dan instansi pemerintahan yang kini tampil sebagai garda terdepan penyelamatan hutan kelekak.

Setelah hadirnya para peneliti dari Bappeda Babel dan Yayasan CIS, kini giliran Dr. Slamet Wahyudi, S.Pd., M.Si., akademisi sekaligus pelatih budidaya aren, yang menghadirkan narasi besar tentang kebangkitan peradaban berbasis tanaman aren. Pohon yang sejak zaman Sriwijaya sudah menjadi simbol peradaban, kemakmuran, dan kedaulatan pangan masyarakat Nusantara.

Dalam pelatihan yang digelar di kantor Desa Zed, Dr. Slamet membuka cakrawala peserta dengan menegaskan bahwa aren bukan sekadar tumbuhan liar yang tumbuh di lembah dan tepi hutan. Ia adalah bagian dari identitas Nusantara.

“Dalam Prasasti Talang Tuo, di masa Sriwijaya, aren ditanam sebagai bagian dari taman kerajaan untuk menyambut tamu. Ia bukan sekadar pohon, tetapi simbol peradaban,” ujarnya, menegaskan bahwa masyarakat Bangka Belitung sedang menyentuh kembali akar sejarahnya sendiri.

Melalui penjelasan yang mendalam, Dr. Slamet menempatkan aren sebagai salah satu tanaman tropis paling strategis di dunia dari manfaat ekologis yang luar biasa hingga nilai ekonominya yang mengalir tanpa henti.

Menurut Dr. Slamet, aren adalah anugerah yang lengkap bagi masyarakat desa.

“Aren ini tanaman yang lengkap. Ia menjaga tanah, menjaga air, sekaligus menjaga dapur masyarakat. Ini pohon yang bisa dipanen setiap hari,” tegasnya.

BACA JUGA:  Terus Perangi Narkotika, 3,65 KG Lebih Narkoba Jenis Sabu, Ganja dan Pil Ekstasi Dimusnahkan Polresta Deli Serdang

Akar aren bekerja layaknya pasak bumi mengikat tanah, menahan longsor, dan menjaga ekosistem sekitar tetap stabil. Ia menjadi benteng alam yang mampu meminimalisir kerusakan lingkungan. Keberadaannya di hutan kelekak ibarat tiang penyangga rumah yang menjaga keseimbangan ekologis.

Namun di sisi lain, aren juga menawarkan ekonomi harian yang nyata sebuah keunggulan yang tidak dimiliki banyak komoditas modern.

“Jika sawit menunggu berbulan-bulan, aren memberi tiap hari. Satu pohon adalah aliran pendapatan,” jelasnya.

Saat permintaan gula aren meningkat tajam di pasar nasional, Bangka Belitung justru menjadi salah satu wilayah dengan produktivitas terendah. Kondisi ini membuka peluang besar bagi masyarakat lokal.

“Jurang antara permintaan dan produksi ini adalah emas. Masyarakat Zed bisa menjadi pelopor,” ungkap Dr. Slamet.

Saat Jawa memproduksi kopi nira, gula premium, dan berbagai produk hilir aren yang kekinian, Bangka Belitung justru masih tertinggal bukan karena tidak mampu, tetapi karena rantai pengetahuan yang sempat putus.

Pelatihan ini mencoba menyambung kembali mata rantai itu dari potensi ekologi, ke peluang pasar, hingga inovasi energi dan pangan masa depan.

Dalam presentasinya, Dr. Slamet menjelaskan bahwa aren bukan hanya komoditas lokal, tetapi tanaman strategis nasional yang mampu menjawab krisis energi dan pangan.

Ketahanan Energi
Nira aren dapat diolah menjadi ethanol berkualitas tinggi, menjadi sumber energi bio yang ramah lingkungan.

Ketahanan Pangan
Di beberapa daerah: Aren diolah menjadi tepung aren, menghasilkan beras imitasi aren sebagai solusi saat produksi padi menurun.

Ekonomi Harian
Dari gula aren, kopi nira, kolang-kaling, ijuk, hingga produk turunan baru, semua bisa menjadi rantai pendapatan yang panjang.

“Ini tanaman masa depan,” ujar Dr. Slamet tegas, seolah menegaskan bahwa masa depan ekonomi hijau Bangka Belitung sejatinya sudah tumbuh lama di halaman kampung.

BACA JUGA:  Panitia Pelaksana Kegiatan Pelantikan dan Pengukuhan DPC PJS Belitung Gelar Rapat Keseriusan Persiapan

Kehadiran Dr. Slamet juga mengingatkan publik akan jejak para pemimpin terdahulu.

“Gubernur Hidayat Arsani dulu ikut menanam aren. Itu langkah bijak membangun ekonomi berbasis ekologi,” katanya.

Dengan demikian, gerakan penanaman aren di Zed tidak hanya menjadi inisiatif masyarakat dan akademisi, tetapi juga bagian dari kesinambungan visi pembangunan daerah yang pernah dicanangkan pemerintah provinsi.

Pelatihan ini semakin memperkuat narasi bahwa Bangka Belitung sedang memasuki era baru era di mana ekologi menjadi dasar ekonomi, dan desa menjadi pusat inovasi hijau.

Kelekak adalah halaman hutan tradisional masyarakat Melayu Bangka bukan lagi ruang nostalgia. Ia menjadi pusat masa depan.

Dengan aren sebagai jangkar, kelekak dapat kembali berfungsi sebagai:
– Ruang resapan air,
– Habitat satwa lokal,
– Kebun pangan rumah tangga, sekaligus kebun ekonomi rakyat.

Arah pembangunan ini sesuai dengan spirit baru Bangka Belitung membangun tanpa menebang, maju tanpa merusak, sejahtera tanpa mengorbankan masa depan.

Di antara batang-batang aren muda yang baru ditanam di Kampung Zed, terhampar harapan besar. Masyarakat mulai melihat bahwa merawat alam bukan lagi beban moral, tetapi investasi ekonomi.

Provinsi, melalui instansi seperti Bappeda Babel dan dukungan akademisi, kini tampil sebagai lokomotif perubahan.

Gerakan ini bukan sekadar pelatihan, ia adalah propaganda positif bahwa Bangka Belitung siap berdiri sebagai provinsi yang bertumpu pada inovasi hijau.

Aren bukan masa lalu. Ia masa depan.
Dan Zed kini menjadi panggung awal kebangkitan itu.

(*/Belva).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *