H.Yus Derahman: Pemimpin yang Tidak Berjarak, Mengakar dari Tempilang untuk Bangka Barat

Tempilang, Bangka Barat – Wakil Bupati Bangka Barat, H. Yus Derahman, menegaskan komitmennya terhadap pembangunan pendidikan dasar melalui kehadirannya dalam kegiatan Halal Bihalal Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) SD Kecamatan Tempilang, yang digelar di Masjid Al Hidayah Tempilang, Selasa (31/3/2026).

Momentum ini menjadi titik strategis dalam memperkuat solidaritas tenaga pendidik sekaligus memperlihatkan arah kepemimpinan daerah yang menempatkan pendidikan sebagai fondasi utama pembangunan.

Kegiatan yang berlangsung dalam suasana pasca Idul Fitri tersebut dihadiri oleh jajaran pemerintah daerah, tokoh masyarakat, serta para guru sekolah dasar se-Kecamatan Tempilang. Dalam forum ini, H. Yus Derahman menekankan bahwa kebersamaan dan kekompakan antar pendidik merupakan kunci dalam membangun generasi masa depan.

“Dari tangan bapak dan ibu sekalian lahir generasi masa depan,” ujar H.Yus Derahman di hadapan para guru.

Pernyataan tersebut menjadi inti pesan kepemimpinan yang ingin dibangun bahwa pemerintah hadir untuk menguatkan, bukan mendominasi mendampingi, bukan menggurui.

Di balik agenda formal, kehadiran H.Yus Derahman menghadirkan makna yang lebih dalam. Ia tidak tampil sebagai pejabat yang berjarak, melainkan sebagai figur yang menyatu dengan ruang sosial para guru.

Tidak ada batas kaku antara pemimpin dan yang dipimpin.
Tidak ada jarak antara kebijakan dan realitas.

Yang ada adalah kedekatan dan dari kedekatan itulah citra dibangun.

Dalam pendekatan ini, H. Yus Derahman memproyeksikan dirinya sebagai:
– Pemimpin yang membumi dan mudah dijangkau
– Figur yang memahami realitas pendidikan dari bawah
– Tokoh yang hadir secara emosional, bukan sekadar struktural
– Ini adalah bentuk personal branding yang kuat di mana kepercayaan publik tumbuh dari pengalaman langsung, bukan sekadar narasi formal.

Namun denyut utama kegiatan ini justru datang dari para guru mereka yang selama ini berada di garis depan pendidikan, tetapi sering berada di pinggir perhatian.

Di ruang sederhana masjid, tersimpan kisah-kisah yang tidak pernah tertulis dalam laporan resmi:
– Guru yang menempuh perjalanan jauh setiap hari.
– Guru yang mengajar dengan fasilitas seadanya.
– Guru yang mengorbankan kenyamanan pribadi demi murid-muridnya.

Dwi Retno Widihastuti, Ketua Panitia, menyampaikan realitas tersebut dengan jujur:

“Menjadi guru di sini bukan hanya soal mengajar, tapi juga bertahan.” ujar Dwi Retno Widihastuti.

Kalimat itu menggambarkan wajah pendidikan di Tempilang bukan sekadar soal kurikulum, tetapi tentang daya tahan, pengabdian dan harapan.

Dalam konteks ini, kehadiran H.Yus Derahman menjadi simbol pengakuan. Ia hadir sebagai “penyaksi” yang melihat langsung perjuangan yang selama ini tersembunyi.

Pendidikan di Pinggir Peta
Persoalan pendidikan di wilayah pesisir dan terpencil seperti Tempilang telah lama menjadi perhatian dalam kajian Pendidikan Dasar.

UNESCO menyebutkan bahwa kualitas pendidikan di wilayah rural sangat dipengaruhi oleh solidaritas komunitas dan keterlibatan pemerintah lokal.

Sementara Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia menegaskan pentingnya kolaborasi antar tenaga pendidik melalui forum seperti K3S sebagai upaya peningkatan mutu pendidikan.

Kegiatan di Tempilang memperlihatkan bagaimana konsep tersebut berjalan dalam praktik di mana kebersamaan menjadi kekuatan utama dan kehadiran pemerintah menjadi penguat.

H.Yus Derahman, dalam konteks ini, tidak hanya hadir sebagai pengambil kebijakan, tetapi sebagai bagian dari solusi.

Ceramah yang disampaikan oleh Abd. Aziz dari Majelis Ta’lim Anwarul Jelitik menambah dimensi spiritual dalam kegiatan tersebut.

Nilai silaturahmi yang diangkat bukan hanya memperkuat hubungan sosial, tetapi juga menjadi dasar legitimasi kepemimpinan.

Dalam masyarakat yang religius, kedekatan dengan nilai-nilai agama menjadi bagian penting dari penerimaan publik. H.Yus Derahman memanfaatkan ruang ini dengan menghadirkan dirinya sebagai figur yang tidak hanya bekerja secara administratif, tetapi juga selaras dengan nilai-nilai spiritual masyarakat.

Di akhir kegiatan, ketika doa ditutup dan tangan-tangan saling bersalaman, tersisa satu kesan kuat bahwa H.Yus Derahman tidak sekadar menjalankan perannya sebagai wakil bupati.

Ia sedang membangun narasi tentang dirinya sebuah citra yang perlahan tertanam dalam ingatan masyarakat.

Sebagai:

Pemimpin yang dekat dengan rakyat

Tokoh yang peduli terhadap pendidikan dasar

Figur religius yang menjunjung nilai kebersamaan

Simbol harapan bagi wilayah pinggiran

Dalam pendekatan komunikasi politik modern, ini adalah bentuk soft propaganda di mana citra tidak dibangun melalui klaim besar, tetapi melalui kehadiran, empati dan konsistensi.

Di Tempilang, di bawah kubah masjid yang sederhana, H.Yus Derahman menunjukkan bahwa kekuasaan tidak harus selalu tampil megah.

Kadang, ia cukup hadir.
Duduk bersama.
Mendengar dengan tenang.

Dari situlah, kepercayaan mulai tumbuh perlahan, tetapi pasti.

Penulis: Medi Hestri, Belva Al Akhab, Satrio dan Tim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *