Bertajuk “Melirik Prospek Sawit di Tengah Berbagai Deregulasi dan Tekanan Dinamika Global”, Gamal Institute Sukses Selengara Webinar Perkebunan Outlook 2026

Jakarta, siasatnusantara.com – Gamal Institute kembali mencatatkan kesuksesan melalui penyelenggaraan Webinar Perkebunan Outlook 2026 bertajuk “Melirik Prospek Sawit di Tengah Berbagai Deregulasi dan Tekanan Dinamika Global” yang dilaksanakan pada Kamis (15/1/2026), pukul 10.05–11.55 WIB secara daring melalui Zoom Meeting.

Webinar ini menghadirkan Ir. Eddy Martono R, MMb (Ketua Umum GAPKI) sebagai narasumber dan dipandu oleh Devi Latifatul Fitri selaku moderator, serta diikuti oleh lebih dari 97 peserta dari berbagai daerah.

Dalam sesi pemaparan awal, disampaikan gambaran umum industri kelapa sawit Indonesia sebagai produsen terbesar dunia dengan total luas mencapai 16,8 juta hektare, di mana 12,9 juta hektare merupakan tanaman menghasilkan dan sekitar 41% dikelola oleh kebun rakyat.

“Produksi nasional tercatat sebesar 52,8 juta ton dan tersebar di 29 dari 38 provinsi. Pada kesempatan tersebut juga dijelaskan peran strategis Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) atau Indonesian Palm Oil Association (IPOA) yang berdiri sejak 27 Februari 1981, dengan 15 cabang dan 756 anggota yang mengelola sekitar 3,7 juta hektare atau 24% dari total perkebunan kelapa sawit nasional, serta komitmennya dalam mendorong industri sawit berkelanjutan melalui penerapan prinsip ISPO,” papar Ir. Eddy Martono R, M.Mb.

Pada sesi materi utama, narasumber memaparkan bahwa kinerja industri sawit pada 2025 menunjukkan perbaikan dibandingkan 2024, baik dari sisi produksi, konsumsi, maupun ekspor hingga Oktober. Kontribusi ekspor minyak sawit terhadap total ekspor nasional yang sempat menurun dari 15% pada 2021 menjadi 10% pada 2024, kembali meningkat ke kisaran 13% pada 2025 seiring dengan harga CPO Oktober 2025 yang relatif lebih tinggi dibandingkan sebagian besar minyak nabati lainnya.

“Industri sawit nasional saat ini juga menghadapi tekanan dari ketidakpastian perdagangan global, dinamika tarif impor India, serta penundaan implementasi kebijakan EUDR hingga Desember 2026,” ungkap Ir. Eddy Martono R, M.Mb.

Lebih lanjut, webinar ini membahas tantangan dari sisi pasokan, seperti lambatnya program peremajaan sawit rakyat (PSR), kebijakan biodiesel dengan bauran yang terus meningkat, serta isu tata kelola perkebunan yang berpotensi menimbulkan ketidakpastian investasi jika tidak dikelola secara transparan dan konsisten.

Ke depan, produksi sawit Indonesia diperkirakan cenderung stagnan, dengan kenaikan pada 2025–2026 lebih dipengaruhi faktor iklim yang mendukung, sehingga diperlukan reformulasi PSR, kehati-hatian dalam peningkatan bauran biodiesel, serta kejelasan kebijakan tata kelola agar industri sawit nasional tetap kompetitif dan berkelanjutan. Nantikan webinar Perkebunan Outlook 2026 Gamal Institute berikutnya dan kesempatan untuk berdiskusi langsung dengan narasumber ahli!

(*/Red/Mar/LN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *