Zed, Bangka Barat, siasatnusantara.com — Di bawah cahaya matahari siang yang lembut, halaman Kantor Desa Zed berubah menjadi ruang pembelajaran ekologis yang penuh energi. Sabtu (29/11/2025) itu, puluhan warga dari berbagai kalangan petani, ibu rumah tangga, pemuda, bahkan perangkat desa tampak berkerumun mengelilingi meja demonstrasi pelatihan pembuatan bibit aren. Mereka tidak hanya datang untuk belajar, tetapi juga untuk ikut menyalakan gerakan baru: gerakan menghidupkan kembali kelekak dan membangun ekonomi hijau desa dengan pondasi tanaman aren.
Pelatihan ini dipimpin langsung oleh Dr. Slamet Wahyudi, S.Pd., M.Si., seorang akademisi dan pelatih budidaya aren yang kini menjadi wajah baru penyelamatan ekologi Bangka Belitung. Kehadirannya menyambung gerakan yang sebelumnya telah dipantik oleh Bappeda Provinsi Babel dan Yayasan CIS dalam upaya mengembalikan aren sebagai tanaman strategis daerah.
Sejak sesi dibuka, Dr. Slamet tidak hanya memberikan instruksi, tetapi juga menanamkan kesadaran ekologis kepada warga. Setiap langkah teknis disertai pesan-pesan besar bahwa aren bukan semata bibit, melainkan masa depan.
Dalam demonya, ia memandu warga melewati tahapan penting:
pemilihan buah aren yang benar-benar matang,
pembersihan lendir dan perlakuan biji,
pembuatan media kecambah menggunakan sekam bakar, pasir sungai, dan tanah gembur,
teknik penyemaian agar kecambah tidak membusuk,
hingga cara memastikan bibit tumbuh kokoh dan sehat.
“Bibit aren ini adalah benih masa depan. Kalau benihnya kuat, ekonomi Zed juga akan kuat, dan lingkungan kita stabil,” ujar Dr. Slamet.
Warga mengangguk, sebagian mencatat, sebagian lain langsung bertanya. Suasana pelatihan terasa hidup. Ibu-ibu tertawa sambil mencoba mengayak tanah, para pemuda berebut mengaduk media tanam, dan anak-anak desa ikut menyimak, seolah melihat permainan baru yang akan mengubah masa depan kampung mereka.
Di setiap penjelasannya, Dr. Slamet menekankan bahwa aren adalah pohon penyambung hidup.
“Akar aren seperti pasak bumi, Ia mengikat tanah, memeluk lereng, menjaga kampung dari longsor dan erosi. Jika Zed menanam aren, Zed sedang menanam perlindungan bagi anak cucunya.” Jelasnya.
Pernyataan itu membuat banyak warga terdiam sejenak, seolah mengingat kembali masa lalu ketika kelekak ruang ekologis khas Melayu Bangka masih rimbun dan menjadi sumber madu, air kabung, hingga tempat bermain anak-anak.
Kini, melalui pelatihan ini, kelekak tidak lagi hanya menjadi kenangan, tetapi mulai dirumuskan kembali sebagai ruang hidup masa depan.
Pelatihan ini bukan sekadar kegiatan teknis, tetapi bentuk nyata propaganda positif pemerintah provinsi untuk mendorong ekonomi berbasis ekologi. Dr. Slamet menegaskan bahwa Bangka Belitung memiliki potensi besar yang selama ini tidak disadari.
“Permintaan gula aren sangat tinggi, tapi produksi kita rendah. Ini peluang emas. Aren bisa jadi penguat ekonomi baru.”
Ia kemudian menjelaskan ragam potensi hilirisasi aren:
– Gula aren premium,
– Kolang-kaling,
– Tepung aren,
– Minuman kopi nira kekinian,
– Ethanol energi terbarukan,
– Produk kuliner lokal bernilai tinggi.
Bagi warga Zed, paparan ini menjadi pemantik baru. Banyak warga mulai membayangkan aren sebagai sumber penghasilan harian, berbeda dengan komoditas lain yang hanya memberi hasil sesekali.
“Kalau Zed menanam seratus, seribu, bahkan sepuluh ribu batang aren, maka ekonomi hijau desa akan lahir dengan sendirinya,” kata Dr. Slamet penuh keyakinan.
Masyarakat Menyambut: Dari Peserta Menjadi Penggerak
Kepala Desa Zed tampak berkali-kali tersenyum bangga melihat keterlibatan warganya. Sementara itu, antusiasme warga semakin menguat seiring berjalannya sesi.
“Selama ini kelekak kami seperti mati suri. Hari ini baru kami tahu bagaimana memulai kembali dari nol,” ungkap seorang ibu sambil memegang bibit aren yang baru ia semai.
Beberapa pemuda desa bahkan langsung membentuk kelompok kecil untuk menjadi tim penggerak aren Zed. Sebagian lain meminta bibit tambahan, menandai bahwa pelatihan ini telah berubah menjadi gerakan bersama.
“Saya jarang melihat masyarakat seantusias ini. Warga Zed siap berubah. Mereka siap menanam, siap menjaga, siap membangun ekonomi hijau,” kata Dr. Slamet dengan mata berbinar.
Pelatihan bibit aren ini adalah bagian dari gerakan penyadaran ekologis yang lebih luas. Dengan menghidupkan kembali aren, masyarakat Zed sejatinya sedang menghidupkan kembali kelekak ruang ekologis tradisional yang selama puluhan tahun menjadi identitas kampung Melayu Bangka.
Di kelekak-lah masyarakat dulu:
– Mengambil nira,
– amencari madu,
– Mendapatkan bahan bangunan alami,
– Memanen kolang kaling,
– Sekaligus menjaga keseimbangan alam di sekitar rumah mereka.
Kini, setelah puluhan tahun tergerus oleh ekspansi dan alih fungsi lahan, kelekak mulai menemukan jalannya pulang melalui pelatihan ini.
Aren bukan hanya akan tumbuh di tanah Zed, tetapi juga tumbuh di kesadaran kolektif warganya.
Siang itu, di halaman kantor desa yang sederhana, terlihat sebuah pemandangan penting rakyat, pemerintah desa, akademisi, dan lembaga provinsi berjalan dalam satu irama penyelamatan lingkungan.
Provinsi melalui gerakan sosialisasi dan pelatihan aren berhasil menyulut kembali identitas ekologis masyarakat. Warga Zed pun menunjukkan bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari gedung besar atau kota besar, tetapi dari desa kecil yang memiliki tekad besar.
Dari tanah yang diaduk warga, dari kecambah aren yang mulai tumbuh, tersimpan narasi optimis bahwa:
– Zed akan kembali hijau.
– Zed akan kembali kuat.
– Zed akan kembali bernilai.
Inilah propaganda ekologi yang lahir dari rakyat sendiri, gerakan yang menggabungkan pengetahuan, tradisi, ekonomi, dan cinta pada tanah leluhur.
Desa Zed kini berdiri sebagai contoh bahwa Bangka Belitung tidak hanya membicarakan penyelamatan lingkungan, tetapi sudah memulainya.
(*/Belva)











