Kampung Zed, Bangka Barat, siasatnusantara.com — Di sebuah kampung yang dikelilingi tanah tua dan ingatan yang hampir memudar, suara alam kembali mengetuk hati manusia. Hari itu, di sebuah balai sederhana yang dikelilingi sisa-sisa kelekak yang masih bertahan, berlangsung sebuah sosialisasi yang terasa lebih seperti pembacaan amanat leluhur daripada sekadar pertemuan formal.
Dalam agenda yang digagas Yayasan Cakrawala Insan Sentosa (CIS) bersama Pemerintah Desa Zed, Kepala Desa Zed, Mat Amin, tampil sebagai sosok yang menghidupkan kembali kesadaran ekologis yang hampir runtuh: bahwa aren harus ditanam, kelekak harus dijaga, dan kampung harus kembali berdamai dengan alam.
Pertemuan itu, Sabtu (29/11/2025), menjadi ruang di mana narasi ekologis, pengetahuan tradisi, dan kecemasan kolektif bertaut. Seperti tanah yang retak merindukan hujan, masyarakat setempat datang membawa harapan baru bahwa kampung mereka dapat kembali bernapas.
Banyak kelekak yang hilang. Seruan itu terdengar seperti duka panjang yang menahan napas. Mat Amin, dengan suara yang tidak meninggi tetapi memukul kesadaran, menyampaikan kegelisahan yang sejak lama terpendam dalam isi kampung.
“Kelekak itu banyak di Kampung Zed, tapi sekarang sudah banyak hilang,” ungkapnya.
Kalimat itu tidak keluar sebagai fakta belaka, melainkan sebagai ratapan ekologis. Kelekak yang pada masa lalu menjadi penjaga air, rumah bagi satwa, dan tempat keluarga memetik buah, kini perlahan tinggal nama. Tinggal rumpun-rumpun kecil yang seolah mempertahankan hidupnya di tengah terjangan perubahan lanskap.
Kepala Desa menjelaskan bahwa di antara pohon yang paling sering menyimpan kehidupan, aren adalah salah satu yang paling kuat bertahan. Dari pengalamannya langsung di lapangan, ia mengenali tanda bahwa aren tidak pernah berdiri sendiri, lebah kelulut menjadikannya rumah, madu menjadi isyarat bahwa pohon itu bukan hanya pohon, melainkan simpul ekologi kampung.
Bagi para penyadap, aren adalah berkah sunyi bagi alam, aren adalah nafas panjang.
“Setiap hari, produk olahan aren itu selalu habis,” tutur Mat Amin saat menceritakan seorang warga yang menjadi penyadap.
Air kabung nira dari bunga aren tak pernah bertahan lama. Ia ludes sebelum matahari condong, menyisakan pertanyaan: mengapa potensi sebesar ini tak terlihat?
Mat Amin menjelaskan, masyarakat kampung melihat aren dengan cara sederhana. Mereka tahu rasanya, tahu fungsinya, tetapi tidak pernah menangkap nilainya dalam skala pembangunan ekonomi rumah tangga. Tanpa pendidikan, tanpa sosialisasi, potensi itu menguap seperti nira yang tidak tertampung.
“Kita dari kampung memang masih kurang menarik. Tapi kalau disampaikan oleh ahli, ini sangat masuk akal dalam hitungan potensi ekonomi,” ujarnya.
Di titik inilah suara Yayasan CIS masuk seperti cahaya yang membuka cakrawala baru. Dalam pemaparan narasumber, masyarakat diperlihatkan nilai sesungguhnya dari aren
bahwa ia tidak hanya memberi air nira, tetapi juga gula semut, gula batok, ijuk, buah kolang, hingga potensi wisata edukasi bagi generasi sekolah.
Aren adalah pohon ekonomi keluarga, tetapi juga penjaga ekologi desa.
Di balik diskusi ekonomi, ada cerita yang lebih sunyi namun lebih dalam yaitu hilangnya kelekak perlahan menghilangkan struktur natural Kampung Zed. Hutan kebun tradisional yang selama ratusan tahun melindungi kehidupan mulai digantikan kebun monokultur, meninggalkan tanah yang rapuh dan langit yang sunyi dari suara satwa.
Kini, kampung merasakan akibatnya:
– Berkurangnya burung dan lebah,
– Hilangnya rempah dan tumbuhan obat,
– Berubahnya aliran air,
– Memudarnya tradisi yang dulu tumbuh dari tanah dan pohon.
Aren hadir seperti jembatan yang menawarkan dua kebaikan sekaligus: ekonomi yang tidak merusak, dan ekologi yang kembali hidup dari akar paling kecilnya.
Sosialisasi kali ini bukanlah seremonial belaka. CIS memosisikannya sebagai gerakan jangka panjang yang ingin mengembalikan struktur ekologis kampung. Irsan, pembina yayasan, menegaskan bahwa aren bukan hanya tentang panen, tetapi tentang hubungan ekologis yang saling menopang aren bagi lebah, lebah bagi hutan, hutan bagi manusia.
Penanaman aren diperkenalkan sebagai tindakan pemulihan:
pemulihan tanah, pemulihan air, pemulihan masa depan.
Di penghujung acara, suasana terasa lebih khusyuk dari awalnya. Kata-kata yang keluar dari Kepala Desa tidak lagi sekadar instruksi, tetapi seperti janji.
“Kita ingin Zed kembali hijau. Kalau aren bisa tumbuh, ekonomi bergerak, dan lingkungan terjaga, kenapa kita tidak mulai dari sekarang?”
Kalimat itu menutup sesi, tetapi justru membuka lembaran baru dalam perjalanan ekologis kampung. Penanaman aren bukan lagi program, melainkan gerakan moral. Kelekak bukan lagi kenangan, tetapi masa depan yang harus direbut kembali.
Sosialisasi ini meninggalkan pesan besar:
– Bahwa kampung hanya akan hidup jika akar-akarnya dirawat.
– Bahwa ekonomi tidak harus mengorbankan hutan.
– Bahwa pohon-pohon leluhur tidak diciptakan untuk dilupakan.
Bahwa Kampung Zed, dengan aren sebagai porosnya, sedang menuliskan kisah baru yaitu kisah tentang manusia yang kembali pulang kepada alamnya sebelum semuanya terlambat.
(*/Belva).











