Opini Oleh: Ustadz Yasir Mustafa, Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kabupaten Bangka periode 2025-2030
Bangka, siasatnusantara.com – Pagi itu, embun masih menggantung di ujung dedaunan ketika Yuliana, seorang guru sekolah dasar di pelosok kecamatan, membuka pintu kelas yang kayunya telah memudar dimakan musim. Di halaman, suara langkah kecil murid-muridnya terdengar seperti denting jam kehidupan ritmis, sederhana, tetapi penuh arti.
“Bu, hari ini kita belajar apa?” tanya seorang murid kelas tiga dengan mata bulat yang memantulkan harapan seakan dunia belum pernah mengenal kata kecewa. Pertanyaan yang teramat biasa, namun bagi Yuliana adalah pengingat bahwa setiap pagi ia memikul masa depan, bahkan ketika hidupnya sendiri masih penuh tanda tanya.
Setiap tanggal 25 November, kisah seperti ini kembali berkeliling di kepala bangsa. Hari Guru Nasional bukan sekadar penanda kalender, bukan pula hiasan spanduk seremonial. Ia adalah jeda renungan bahwa di balik setiap anak yang mampu membaca, memahami dunia, dan percaya pada masa depannya selalu ada seorang guru yang memilih untuk bangkit meski situasi sering kali tidak berpihak.
Guru Indonesia hari ini berdiri di tengah gelombang perubahan pergeseran kurikulum, digitalisasi cepat, dan ekspektasi publik yang kadang lebih berat dari beban buku pelajaran.
Tetapi sebagaimana ditegaskan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dalam Siaran Pers Hari Guru Nasional 2025 bertema “Guru Hebat, Indonesia Kuat”, guru bukan hanya aktor dalam ruang kelas. Mereka adalah pilar peradaban yang menopang kualitas generasi.
Penelitian pendidikan dasar oleh Siti Sarah dkk. (2024) memperkuat hal ini peran guru sebagai pembentuk karakter tidak tergantikan oleh teknologi apa pun. Guru bukan sekadar pengajar, melainkan penenun nilai hidup nilai sabar, jujur, berani mencoba, dan berani gagal.
Di kelasnya yang sempit, Yuliana bukan hanya menjelaskan rumus, tetapi mengajari anak-anak bagaimana bersikap dalam menghadapi dunia. Di sela menjelaskan pecahan, ia menenangkan murid yang hampir menyerah. Di sela mengoreksi tugas, ia menyelipkan pujian kecil yang mampu membangkitkan harga diri seorang anak yang sebelumnya takut dihina.
Begitulah guru bekerja:
dengan hati yang terlatih,
dengan kelelahan yang disembunyikan,
dan dengan idealisme yang tak pernah benar-benar padam.
Dalam peringatan Hari Guru Nasional tahun ini, Menteri Pendidikan kembali menegaskan bahwa guru adalah “penentu kualitas peradaban.” Tapi jauh sebelum kalimat itu dirilis, guru-guru pelosok seperti Yuliana sudah membuktikannya lewat kerja sunyi mereka.
Penelitian oleh Qonita Pradina dkk. (2021) menunjukkan bahwa kehadiran guru berdampak langsung pada disiplin dan karakter siswa. Sebuah riset internasional oleh Cardenal (2024) bahkan menyatakan bahwa hubungan emosional positif antara guru dan siswa dapat meningkatkan keterlibatan belajar siswa secara signifikan.
Data ini bukan sekadar angka.
Ia adalah wajah-wajah anak yang mulai percaya diri.
Ia adalah senyum pemalu yang berubah menjadi tawa.
Ia adalah tangan kecil yang berani mengangkat untuk menjawab pertanyaan.
Di balik semua itu, ada guru yang memilih untuk tetap hadir meski kadang honor terlambat, fasilitas minim, atau kebijakan terlalu sering berubah.
Jika ruang kelas adalah sebuah panggung,
maka guru adalah penyair yang setiap hari menuliskan bait-bait masa depan.
Ketika guru menulis rumus di papan tulis yang kusam,
sesungguhnya mereka sedang mengguratkan jalan hidup seseorang.
Ketika guru menenangkan murid yang menangis karena tidak bisa berhitung,
mereka sedang mengajarkan bahwa kegagalan adalah bagian wajar dalam hidup.
Ketika guru memulai pelajaran dengan senyum padahal tadi pagi bingung memikirkan biaya hidup mereka sedang memperlihatkan bentuk tertinggi dari pengabdian.
Guru adalah penyair sunyi.
Dan sastra mereka adalah manusia-manusia kecil yang kelak tumbuh dengan nilai.
Menurut laporan sejarah ANTARA (2025), Hari Guru Nasional ditetapkan bukan hanya untuk menghormati pekerjaan mereka, tetapi untuk mengingatkan bangsa bahwa PGRI yang lahir pada 1945 adalah simbol perjuangan guru demi martabat bangsa.
Hari ini, delapan puluh tahun kemudian, perjuangan itu masih terasa sama beratnya.
Dari guru honorer yang gajinya tak sebanding dengan beban moral,
hingga guru desa yang harus berjalan puluhan kilometer untuk mengajar,
hingga guru muda yang harus mempelajari teknologi dengan dana seadanya.
Bangsa ini hidup di atas pundak guru.
Tetapi jarang sekali kita menoleh pada pundak itu dan bertanya:
“Apakah mereka baik-baik saja?”
Penelitian oleh Ayusari dkk. (2022) menegaskan bahwa kesejahteraan guru memiliki korelasi langsung terhadap kualitas pendidikan. Guru yang didukung akan menciptakan suasana kelas yang sehat, dan siswa akan lebih percaya diri.
Hari Guru Nasional seharusnya menjadi refleksi bersama:
bahwa guru butuh lebih dari sekadar acara seremonial,
lebih dari sekadar ucapan terima kasih di media sosial.
Mereka butuh:
– Pelatihan yang berkelanjutan,
– Ruang kreatif untuk berkembang,
– Jaminan kesejahteraan,
– Perlindungan hukum,
dan yang tak kalah penting: penghargaan martabat.
Karena guru yang bahagia akan melahirkan murid yang kuat.
Dan murid yang kuat akan melahirkan bangsa yang tangguh.
Hari Guru Nasional 2025 bukan hanya panggilan untuk merayakan guru, tetapi panggilan untuk bangkit bersama guru.
Mereka telah terlalu lama menjadi pahlawan sunyi.
Mereka telah terlalu lama berdiri sendiri dalam perjuangan.
Kini saatnya suara mereka tidak hanya diperingati setiap 25 November, tetapi diperjuangkan setiap hari.
Sebab pada akhirnya,
kesuksesan seorang siswa,
masa depan sebuah keluarga,
dan kejayaan sebuah bangsa.
semuanya dimulai dari guru yang bangkit, dan dibangkitkan martabatnya oleh bangsa yang mereka layani.
Daftar Literatur:
Pradina, Q.; Faiz, A.; & Yuningsih, D. (2021). Peran guru dalam membentuk karakter kedisiplinan siswa di MI Nihayatul Amal Gunungsari (Studi Kasus). Edukatif: Jurnal Ilmu Pendidikan, 3(6), 4118–4125.
Cardenal, M.-E.; Díaz-Santana, O.-D.; & González-Betancor, S.-M. (2024). Teacher-student relationship and teaching styles in primary education: A model of analysis. arXiv Preprint.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia. (2025, 25 November). Siaran Pers Hari Guru Nasional 2025: “Guru Hebat, Indonesia Kuat”.
Direktorat Guru Pendidikan Dasar – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. (2025). Hari Guru Nasional 2025: Guru Hebat, Indonesia Kuat.
ANTARA News. (2025, 18 November). Jejak sejarah lahirnya Hari Guru Nasional 25 November.K
Kompas.com. (2025, 24 November). Kenapa 25 November jadi Hari Guru Nasional? Ini sejarah dan dasarnya.
ANTARA News. (2025). Hari Guru Nasional 2025: Ini tanggal peringatan dan maknanya.
(*/Belva).











